Minggu, 22 Januari 2012
Sabtu, 21 Januari 2012
Rabu, 18 Januari 2012
Taklid
T a k l i d Fenomena kemalasan masyarakat umum untuk membaca, menelaah, dan mendiskusikan berbagai permasalahan aktual atau mengenai dalil-dalil yang valid, seringkali kita jumpai. Seseorang lebih memilih bertanya kepada orang lain yang dianggap cukup ilmunya dengan menerima begitu saja dan merasa cukup dengan jawaban yang diberikan. Atau ketika terjadi pro-kontra dalam suatu persoalan, panduan dan pegangannya adalah persepsi dan interpretasi dari seseorang dan menepis persepsi lain yang bersebrangan. Sikap seperti ini disebut Taklid. Sikap Taklid terkadang tidak disadari dan dimengerti oleh orang yang mengerjakannya karena berbatasan dengan Ittiba. Ittiba adalah sikap mengikuti apa yang datang dari Nabi Muhammad saw dan para sahabat (Ahmad). Dapat dikatakan pula sebagai apa yang ditetapkan berdasarkan argumentasi yang valid. Sedangkan Taklid menurut syariat adalah kembali kepada pendapat yang tidak argumentatif bagi yang mengucapkannya kepadanya (Abu Abdullah bin Khawwaar Mindad Al Bashari Al Maliki). Imam Ibn Qayyim memaknakan taklid sebagai tindak menirukan sesuatu yang bersifat mengagungkan pembawa sesuatu itu sendiri. Sampai saat ini taklid masih menjadi masalah yang kontroversial di kalangan para ulama. Segolongan orang bertaklid dengan berlandaskan pada firman Allah SWT : "Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui." (An Nahl: 43) Sedangkan segolongan dari para ulama fiqih dan ahli-ahli teoritis menyanggah pendapat-pendapat orang yang memperbolehkan taklid. Bahkan empat imam madzhab yang ditaklidkan melarang untuk bertaklid kepada mereka dan mengecam orang yang mengambil pendapat-pendapat dan persepsi-persepsi mereka tanpa argumen yang valid. Imam Syafi'I berkata : "Perumpamaan orang yang mencari ilmu dengan hujjah, seperti pencari kayu bakar pada malam hari, ia membawa seikat kayu bakar dan di dalamnya terdapat seekor ular yang mematuknya, namun ia tidak mengetahuinya". Imam Abu Hanifah berkata : "Tidak halal bagi seseorang yang berkata menurut ucapan kami, terkecuali ia mengetahui sumber persepsi kami". Imam Ahmad berkata : "Janganlah kamu bertaklid kepada seseorang dalam agamamu ". Beberapa argumen para ulama terhadap orang yang bertaklid : Persepsi-persepsi dan pendapat-pendapat para ulama terbatas dan tidak melingkupi seluruh bidang. Selain itu, kesuciannya tidak terjamin kecuali ada mufakat di antara mereka dan tidak ada perselisihan (untuk hal-hal yang beresensikan kebenaran). Allah menyerahkan ilmu berdasarkan apa yang sanggup seseorang kuasai (berarti ada ilmu yang tidak dikuasai) sehingga tidak ada jaminan bahwa sesuatu itu terbebas dari kesalahan karena tidak ada indikator bahwa salah satu dari orang-orang yang mengeluarkan persepsi itu lebih pantas untuk dipegang daripada yang lain. Pada masa Rasulullah, tidak ada seorangpun yang dijadikan sebagai tauladan bagi seseorang yang lain dari mereka untuk ditaklidkan dalam segala persepsi agama. Dan hal ini juga terjadi pada masa para ulama tabi'in dan tabi'it-tabi'in. Taklid sendiri mulai ada pada abad ke 4, yaitu ketika para pengikut–pengikut para Imam menjadikan madzhab dari Imamnya sebagai standar atas Al-qur'an dan Sunnah Nabi. Sebagai contoh: Ibn Wahab yang bertaklid kepada Imam Malik; Abu Yusuf dan Muhammad yang bertaklid kepada Abu Hanifah; Imam Bukhari, Imam Muslim, Imam Abu Dawud, dan Atsrom yang bertaklid kepada Imam Ahmad. Taklid sendiri menjadi masalah yang sangat penting manakala bersifat membuta, di mana seseorang menelan mentah-mentah sebuah argumen tanpa menelaahnya terlebih dahulu. Dalam masalah syariah, dapat ditemui ketika seseorang menempatkan agamanya kepada orang lain. Argumen atas suatu permasalahan didasarkan atas satu pendapat terhadap pendapat yang lain, satu madzhab atas madzhab yang lain, dan mengingkari orang yang bertentangan dengan suatu madzhab tertentu. Sesungguhnya sikap taklid ini dapat menyebabkan orang terjebak dalam berbagai pro-kontra, pendapat yang kontradiktif, dan persoalan yang semakin memuncak, yang pada akhirnya menceraiberaikan agama dan membagi para pengikut para Imam ini ke dalam golongan-golongan dan menjadikannya menyeru kepadanya dan mencela pihak yang bertentangan dengannya. Sehingga seakan mereka memeluk agama yang berbeda. Dikatakan : "Bagi mereka kitab-kitab mereka dan bagi kami kitab-kitab kami, bagi mereka Imam-Imam mereka dan bagi kami Imam-Imam kami, bagi mereka madzhab-madzhab mereka dan bagi kami madzhab-madzhab kami. Rasulullah sendiri mengecam orang-orang yang menceraikan agama dengan haditsnya: "Bahwasanya siapa saja di antara kalian yang hidup setelah (kematianku) maka ia akan melihat pertentangan yang banyak." (HR. Imam Tirmidzi). Dalam taklid ada tiga bahasan penting, yaitu : 1. Taklid yang Diharamkan Beberapa jenis taklid yang diharamkan adalah : a) Berpaling dan tidak mengindahkan ajaran Allah SWT karena merasa cukup dengan bertaklid kepada (ajaran) bapak-bapaknya (nenek moyangnya). b) Taklid yang dilakukan oleh orang yang tidak mengetahui tentang apa yang ia ikuti, seakan ia seorang yang ahli di mana pendapatnya harus diambil (diikuti) c) Taklid setelah mengemukakan berbagai argumentasi dan menjelaskan dalil yang bertentangan dengan pendapat ulama yang ia ikuti. Taklid yang pertama dikecam dan diharamkan karena telah berpaling dari apa yang telah diturunkan Allah SWT dengan bertaklid kepada nenek moyangnya yang tidak berakal sedikitpun dan tidak mendapat hidayah. Firman Allah SWT : "Dan apabila dikatakan kepada mereka; ikutilah apa yang diturunkan oleh Allah. Maka mereka menjawab; tidak, akan tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami. (Apakah mereka akan mengikuti juga) walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui suatu apa pun dan tidak pula mendapat petunjuk" (Al Baqarah: 170). Taklid yang ke dua didasarkan atas tidak adanya pengetahuan terhadap kemufakatan pihak-pihak yang memiliki pengetahuan. Berarti bersikap taklid sebelum mampu mengetahui ilmu dan argumentasinya. Firman Allah SWT : "Dan janganlah kalian mengikuti apa yang kalian tidak mempunyai pengetahuan tentangnya." (Al Isra : 36) Sedangkan taklid ketiga adalah yang lebih pantas untuk dikecam dan dianggap telah bermaksiat kepada Allah dan rasul-Nya karena bersikap taklid setelah ilmu dan argumentasi-argumentasi telah jelas datang kepadanya. Firman Allah SWT : "Ikutilah apa yang diturunkan kepadamu dari Rabbmu, dan janganlah engkau mengikuti pemimpin-pemimpin selain Dia." (Al-A'raaf : 3) Allah SWT melarang kita untuk bertaklid kepada selain-Nya dan selain Rasul-Nya. Hal ini menunjukkan gugurnya sikap taklid buta yang berdalih: "Bahwa sesungguhnya kami hanya mengembalikannya kepada Imam yang kami bertaklid atasnya." 2 .Taklid yang diwajibkan Sikap taklid dikecam manakala merujuk pada seseorang yang menyesatkan dari jalan yang benar. Adapun sikap yang merujuk pada jalan yang benar, di mana senantiasa berusaha keras untuk mendasarkan segala sesuatu pada apa yang diturunkan Allah dan Rasul-Nya, adalah wajib. Firman Allah: "Kemudian jika kalian berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al-quran) dan Rasul-Nya (Sunnah-Nya), jika kalian benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagi mereka berdua yang tengah berbeda pendapat) dan lebih baik akibatnya." (An-Nisaa : 59) 3. Taklid yang dibolehkan tanpa diwajibkan Masalah taklid kepada selain Allah dan Rasulnya tidak diperkenankan sama sekali. Akan tetapi, karena keterbatasaan pengetahuan, seseorang akhirnya mengikuti orang lain yang lebih berpengetahuan. Demikianlah tindakan para ahli ilmu, karena sesungguhnya, taklid hanya diperbolehkan bagi orang yang terdesak (darurat). Intinya, tidak menerima perkataan orang lain kecuali dengan dalil atau pada saat yang bersifat darurat (emergensi). Beberapa contoh taklid yang berlaku disepakati manusia (dengan ijma' ulama) : Taklid seorang tuna netra kepada para Imam madzhab dalam berkiblat; Taklid umat Islam kepada para Imam madzhab dalam bersuci, membaca fatihah; Taklid seorang suami kepada istrinya bahwa haidlnya telah berhenti sehingga diperbolehkan untuk disentuh; Taklid umat manusia kepada para muadzdzin dalam hal masuknya waktu-waktu shalat fardhu; Taklid seorang hakim kepada seorang saksi; Taklid orang yang bodoh kepada orang yang alim; dan lain-lain. Mencari persepsi-persepsi para ulama, menelitinya dengan seksama, memikirkannya dan mengembalikannya kepada Al quran dan sunnah yang tetap dari Rasulullah saw dan para khulafa ?urasyidin. Apa yang sesuai diterima, dan dijadikan sebagai fatwa dan rujukan dalam mengambil keputusan. Apa yang bertentangan tidak diterima dan ditolak. Dan apa yang tidak jelas, dilakukan ijtihad di mana tidak ada kewajiban bagi seseorang untuk mengikuti atau tidak mengikutinya. Inilah metode para alim ulama terdahulu dan seka
Posted in: PAIHukum Tajwid
HUKUM TAJWID QALQALAH QALQALAH SUGHRA Lantunan yang paling rendah. Apabila huruf Qalqalah terletak di pertengahan kalimah. Tanda : Huruf Qalqalah sukun terdapat di pertengahan kalimah. QALQALAH KUBRA Lantunan yang sederhana iaitu pertengahan. Apabila memberhentikan bacaan pada huruf Qalqalah yang berada di hujung kalimah dan huruf tersebut tidak bersabdu (bertasydid). Sukun pada huruf Qalqalah di sini adalah 'aridh yang disebabkan wakaf (berhenti) padanya. Tanda : Wakaf pada huruf Qalqalah yang tidak bersabdu. QALQALAH AKBAR Lantunan yang paling kuat. Apabila memberhentikan bacaan pada huruf Qalqalah yang berada di hujung kalimah dan huruf tersebut bersabdu (bertasydid). Sukun pada huruf Qalqalah di sini merupakan sukun yang 'aridh (mendatang) disebabkan wakaf (berhenti) padanya. Tanda : Wakaf pada huruf Qalqalah yang bertasydid. NUN SAKINAH DAN TANWIN IQLAB Dari sudut bahasa: Menukarkan sesuatu kepada sesuatu. Dari sudut istilah Ilmu Tajwid: Menukarkan lafaz sesuatu huruf kepada huruf yang lain. Apabila Nun Sakinah atau Tanwin bertemu dengan huruf Iqlab iaitu Ba', maka hendaklah ditukarkan Nun Sakinah atau Tanwin kepada Mim dengan disertai suara "Ghunnah" (dengung) dengar kadar panjang dua harakat. Sebab ditukarkan Nun Sakinah dan Tanwin kepada Mim tidak kepada huruf-huruf yang lain kerana Mim dan Ba' ada persamaan antara makhraj dan sifatnya. • Makhraj Mim dan Ba' pada antara dua bibir. • Sifat yang sama antara Mim dan Ba' pula ialah Jahar, Istifal, Infitah, Idzlaq dan Ghunnah IDGHAM IDGHAM terbahagi kepada 2. IDGHAM BILA GHUNNAH Iaitu memasukkan tanpa dengung. Ia terdiri dari dua huruf iaitu Ra' dan Lam. Apabila salah satu dari dua huruf tersebut bertemu dengan Nun Sakinah atau Tanwin dengan syarat di dalam dua kalimah yang berasingan, ia mestilah dibaca dengan Idgham Bila Ghunnah. Bacaan Idghamnya tidak disertai dengan Ghunnah (dengung). IDGHAM MA'AL GHUNNAH Apabila Nun Sakinah atau Tanwin bertemu dengan salah satu huruf-huruf Idgham Ma'al Ghunnah iaitu Ya', Wau, Mim dan Nun dalam dua kalimah. Maka ia dibaca dengan disertai ghunnah (dengung) dengan kadar 2 harakat. IKHFA' HAQIQI Dinamakan Ikhfa' Haqiqi kerana pada hakikatnya dibaca dengan Ikhfa' Nun Sakinah atau Tanwin pada kebanyakan huruf hijaiyyah. Ikhfa' Haqiqi ada tiga martabat (peringkat): Martabat tertinggi: iaitu Ikhfa' Nun Sakinah atau Tanwin pada huruf To', Dal dan Ta' kerana makhrajnya paling hampir dengan Nun Sakinah. 1. Martabat pertengahan: iaitu Ikhfa' Nun Sakinah atau Tanwin pada huruf Tha', Jim, Dzal, Zai, Sin, Syin, Shad, Dhad, Zha' dan Fa' kerana makhrajnya di pertengahan (iaitu antara martabat tertinggi dengan martabat terendah) Nun Sakinah. 2. Martabat terendah: iaitu Ikhfa' Nun Sakinah atau Tanwin pada Qaf dan kaf kerana makhrajnya berjauhan dengan Nun Sakinah. Perhatian: Ikhfa' Nun Sakinah juga berlaku pada huruf pembukaan surah seperti yang disenaraikan di bawah ini: o Surah Maryam: 1 o Surah al-Syura: 2 o Surah al-Naml: 1 dan 2 (sekiranya dibaca wasal pada ayat 1 dan 2). Bunyi ghunnah atau dengung bagi hukum Ikhfa' Haqiqi ada dua keadaan: o Tafkhim (sekiranya Nun Sakinah atau Tanwin bertemu dengan huruf-huruf Ikhfa' yang bersifat isti'la' seperti huruf Shad, Dhad, To', Zha', dan Qaf). o Tarqiq (sekiranya Nun Sakinah atau Tanwin bertemu dengan huruf-huruf Ikhfa' yang tidak bersifat isti'la' iaitu selain dari huruf-huruf yang telah disebutkan di atas). MIM NUN BERSABDU MIM BERSABDU Mim bersabdu pada asalnya terdiri dari dua Mim, pertama sukun dan kedua berbaris. Mim Sukun dimasukkan ke dalam Mim yang berbaris sehingga kedua-duanya membentuk satu huruf yang bersabdu. Hukum Mim yang bersabdu adalah wajib dibaca secara Ghunnah (menzahirkan dengungnya) dengan kadar dua harakat. NUN BERSABDU Nun yang bersabdu pada asalnya terdiri dari dua huruf Nun, iaitu huruf yang pertama sukun dan yang kedua berbaris HUKUM MAD MAD FAR'IE (Mad Far'ie terbahagi kepada 8.) 1. Mad 'Aridh Lil Sukun Dinamakan Mad 'Aridh Lil Sukun kerana terdapat sukun yang mendatang selepas huruf Mad ketika waqaf. Dibaca 2 harakat kerana pada asalnya ia adalah Mad Asli, dibaca 4 harakat (iaitu martabat pertengahan bagi kadar Mad) kerana seumpama berhimpun dua huruf sukun serta meraikan keadaan asal dan dibaca 6 harakat kerana menyerupai Mad Lazim. 2. Mad Badal Mad Badal ialah huruf Hamzah berada sebelum huruf Mad di dalam satu kalimah dan tidak terdapat huruf Hamzah atau Sukun selepas huruf Mad.Ia dinamakan dengan Mad Badal kerana Huruf Mad tersebut adalah gantian daripada Hamzah. Huruf Hamzah kedua ditukar kepada huruf Mad mengikut baris huruf Hamzah pertama untuk meringankan bacaan. Mad Badal terjadi dalam 4 keadaan: a) Mad Badal yang terjadi ketika permulaan dan wasal. b) Mad Badal yang terjadi ketika wasal sahaja. c) Mad Badal yang terjadi ketika waqaf sahaja. d) Mad Badal yang terjadi ketika memulakan bacaan dengannya sahaja (ibtida'). Kadar bacaannya adalah 2 harakat. Mad 'Iwad Berlaku ketika wakaf pada akhir kalimah yang berbaris dua di atas kecuali pada huruf Ta' Marbutah. Ia wajib dibaca dengan kadar 2 harakat kerana ia adalah Mad Tabi'ie yang terjadi kerana waqaf. Mad Jaiz Munfashil Mad Jaiz Munfashil terjadi apabila Huruf Mad bertemu Hamzah dalam dua kalimah iaitu ketika wasal sahaja.Dinamakan Mad Jaiz Munfashil kerana sebahagian daripada Imam-imam Qiraat membolehkan ianya dibaca lebih daripada kadar Mad Asli dan dinamakan Munfashil kerana Huruf Mad dan Hamzah berada di dalam dua kalimah yang berasingan. Kadar harakatnya harus dibaca 4 atau 5 harakat. Mad Jaiz Munfashil ada dua keadaan dalam al-Quran berdasarkan kepada kaedah Resam al-Quran: 1. Mad Jaiz Munfashil Haqiqi iaitu kelihatan jelas terpisah antara Huruf Mad dan Hamzah dalam dua kalimah yang berpisah antara keduanya. 2. Mad Jaiz Munfashil Hukmi iaitu tidak kelihatan secara jelas Huruf Mad dan Hamzah berpisah dalam dua kalimah. Ia seolah-olah dalam satu kalimah. Keadaan ini berlaku pada dua situasi: a. Ya' al-Nida' (kata seruan) apabila selepasnya ada kalimah yang dimulai dengan Hamzah. b. Ha' Lil Tanbih apabila selepasnya terdapat Isim Isyara. Mad Liin Mad Liin terjadi apabila Huruf Liin bertemu dengan sukun yang mendatang ketika waqaf sahaja.Ia boleh dibaca dengan kadar harakat 2, 4 dan 6. Dinamakan Mad Liin kerana ia terjadi pada Huruf Lin dan boleh dibaca dengan kadar 2, 4 dan 6 kerana ia sebahagian daripada Mad 'Aridh Lil Sukun Mad Silah Qasirah Mad silah ialah Mad yang terdapat pada Ha' Dhomir. Cara mengenalnya ialah apabila terdapat Ha' Dhomir pada akhir kalimah, sebelumnya terdapat huruf yang berbaris dan selepasnya juga terdapat huruf yang berbaris. Mad Silah Qasirah ialah mad yang terdapat pada ha' dhomir iaitu selepas ha' tidak ada hamzah qat'ie. Mad Silah Towilah Mad silah ialah Mad yang terdapat pada Ha' Dhomir. Cara mengenalnya ialah apabila terdapat Ha' Dhomir pada akhir kalimah, sebelumnya terdapat huruf yang berbaris dan selepasnya juga terdapat huruf yang berbaris. Untuk mengenali Mad Silah Towilah, kita cuma perlu memerhatikan selepas ha' terdapat Hamzah Qat'ie Mad Tamkin Mad Tamkin berlaku apabila berhimpun dua Ya' pada satu kalimah. Ya' yang pertama mesti berbaris di bawah serta bertasydid dan Ya' yang kedua sukun. Mad Asli Mad Asli ialah Mad yang terjadi dengan sebab Huruf Mad. Ia juga dikenali dengan Mad Tabi'ie. Mad Asli terjadi apabila: a.Huruf Alif yang didahului dengan huruf yang berbaris atas. b.Huruf Wau sukun yang didahului dengan huruf yang berbaris hadapan. c.Huruf Ya' sukun yang didahului dengan huruf yang berbaris bawah. Perhatian: Dalam riwayat Hafs terdapat tujuh kalimah yang diakhiri dengan Alif dan dibaca panjang dengan kadar 2 harakat ketika waqaf sahaja sedangkan ketika wasal kalimah-kalimah ini dibaca dengan pendek tidak bermad. HUKUM HAMZAH PECAHAN HUKUM HAMZAH Hamzah Qat'ie Hamzah Qata' iaitu hamzah yang tetap bacaannya sama ada dimulakan dengannya atau sebaliknya. Hamzah ini dinamakan dengan Hamzah Qat'ie kerana hamzah ini mempunyai baris yang pasti atau tetap kewujudannya. Hamzah Qat'ie boleh menerima baris dan ditulis dengan nyata barisnya. Ia terdapat pada ketiga-tiga jenis kalimah iaitu isim (kata nama), Fe'el (kata kerja) dan harf (kata sendi). Hamzah Qat'ie yang datang pada kalimah ini menerusi tiga keadaan iaitu: 1. Awal kalimah sama ada hamzah itu berbaris atas, bawah atau hadapan. 2. Pertengahan kalimah sama ada hamzah berbaris atas, hadapan bawah atau sukun (mati). 3. Di hujung kalimah sama ada hamzah itu berbaris atas, bawah, hadapan atau sukun (mati). Hamzah Qat'ie berubah daripada sifat asal dalam beberapa keadaan: 1. Dibaca secara tashil iaitu bacaan antara alif dan hamzah pada lafaz 'Aajami' surah Fussilat: 44. 2. Dibaca secara ibdal (iaitu ditukarkan kepada huruf mad) jika terdapat hamzah wasal sebelumnya dan dimulakan dengan hamzah wasal tersebut. seperti pada lafaz 'Utumina' surah al-Baqarah: 283 Kaedah penulisan Hamzah Qat'ie. 1. Apabila Hamzah Qat'ie berada di awal kalimah maka ia ditulis dengan huruf alif sebagai rumahnya sama ada hamzah itu berbaris atas, bawah atau hadapan. 2. Apabila Hamzah Qat'ie berada di tengah kalimah maka ada beberapa keadaan: Apabila hamzah qat'ie itu sukun dan huruf sebelumnya berbaris atas maka ia ditulis dengan huruf alif sebagai rumahnya. Sekiranya hamzah qat'ie itu sukun dan huruf sebelumnya berbaris bawah maka ia ditulis dengan huruf Ya' sebagai rumahnya. Sekiranya hamzah qat'ie itu sukun dan huruf sebelumnya berbaris hadapan maka ia ditulis dengan huruf wau sebagai rumahnya. Sekiranya hamzah qat'ie itu berbaris dan huruf sebelumnya sukun kecuali alif maka ia ditulis bersendirian tanpa rumah. Sekiranya hamzah qat'ie itu berbaris atas maka ia ditulis dengan alif sebagai rumah. Sekiranya hamzah qat'ie itu berbaris bawah maka ia ditulis dengan huruf Ya' sebagai rumah. Sekiranya hamzah qat'ie itu berbaris hadapan maka ia ditulis dengan huruf wau sebagai rumah. 3. Apabila Hamzah Qat'ie berada di hujung kalimah, maka ada beberapa keadaan juga iaitu: • Jika sebelum hamzah qat'ie tersebut huruf yang berbaris atas maka ia ditulis dengan huruf alif sebagai rumah. • Jika sebelum hamzah qat'ie tersebut huruf yang berbaris bawah maka ia ditulis dengan huruf Ya' sebagai rumah. • Jika sebelum hamzah qatie tersebut huruf yang berbaris hadapan maka ia ditulis dengan huruf wau. Jika sebelum hamzah qat'ie tersebut huruf yang berbaris mati (sukun) maka ia ditulis bersendirian tanpa rumah. Hamzah Wasal Iaitu hamzah yang ditetapkan (dibaca) ketika memulakan bacaan dengannya dan tidak dibaca ketika bacaan bersambung. Ia hanya terdapat pada awal kalimah. Tanda: Hamzah wasal boleh menerima baris tetapi tidak ditulis akan barisnya secara nyata sebaliknya ia ditulis dengan huruf alif yang diletakkan kepala shad kecil di atasnya. Ia terdapat pada kalimah isim (kata nama) dan fi'il (kata kerja) sahaja LAM TA'ARIF PECAHAN LAM TA'ARIF Alif Lam Syamsiah (Idgham Syamsi) Alif Lam Syamsiah juga dikenali dengan Idgham Syamsi. Diidghamkan Lam Ta'rif apabila bertemu dengan mana-mana Huruf Syamsiah. Huruf Syamsiah ada 14 huruf iaitu Ta', Tha', Dal, Dzal, Ra'. Zai, Sin, Syin, Shad, Dhad, To', Zha', Lam dan Nun. Idgham Syamsi terbahagi kepada dua bahagian: 1- Idgham Syamsi Bi Ghunnah (Idgham Syamsi dengan dengung):Ia terjadi apabila Lam Ta'rif diidghamkan pada Nun. 2- Idgham Syamsi Bila Ghunnah (Idgham Syamsi tanpa dengung):Ia terjadi apabila Lam Ta'rif diidghamkan pada Huruf-huruf Syamsiah selain Nun. Sebab-sebab Idgham: 1- Lam Ta'rif dengan Lam adalah dua huruf yang sama pada makhraj dan sifat. 2- Lam dengan baki huruf Syamsiah yang lain adalah dua huruf yang mutaqariban. Alif Lam Qamariah (Izhar Qamari) Alif Lam Qamariah juga dikenali dengan Izhar Qamari. Diizharkan Lam Ta'rif apabila bertemu dengan mana-mana Huruf Qamariah. Huruf-huruf Qamariah itu ada empat belas huruf iaitu Ba', Jim, Ha', Kha', 'Ain, Ghain, Fa', Qaf, Kaf, Mim, Wau, Ha', Hamzah dan Ya'. Ia dinamakan Izhar Qamari kerana diizharkan Lam tersebut kepada Huruf-huruf Qamariah; manakala sebab ia Izhar ialah kerana Lam dan Huruf Qamariah adalah dua huruf Mutaba'idan. MIM SAKINAH IKHFA' SYAFAWI • Apabila Mim Sakinah bertemu dengan huruf Ba', maka wajib dibaca dengan Ikhfa' dan ghunnah dengan kadar 2 harakat. • Ia dinamakan Syafawi kerana Huruf Mim dan Ba' sama-sama keluar dari dua bibir. • Ikhfa' Syafawi terdiri dari satu huruf iaitu Ba'. IZHAR SYAFAWI • Apabila Mim Sakinah bertemu dengan huruf-huruf Hijaiyyah selain dari huruf Ba' dan Mim maka hukum bacaannya adalah Izhar. • Dibaca dengan tidak disertai ghunnah (dengung). • Di namakan Izhar Syafawi kerana Mim makhrajnya di antara dua bibir. TAFKHIM DAN TARQIQ LAM LAFZUL JALALAH TARQIQ Lam pada lafaz Allah: Dibaca dengan Tarqiq apabila didahului dengan huruf yang berbaris bawah PECAHAN HUKUM RA' Ra' Tarqiq Ra' wajib dibaca dengan nipis di dalam lapan keadaan iaitu: 1. Ra' berbaris bawah sama ada di awal, tengah dan hujung kalimah. 2. Ra' berbaris kasrah 'Aridh (kasrah yang mendatang). Contoh: Surah Ibrahim: 44 3. Ra' sukun dan huruf sebelumnya berbaris bawah sama ada di tengah atau di hujung kalimah. 4. Ra' sukun, huruf sebelumnya berbaris bawah dan selepasnya Huruf Ist'ila' dalam kalimah yang berasingan. Contoh: Surah Nuh: 1 5. Ra' sukun 'Aridh kerana waqaf dan huruf sebelumnya juga sukun (selain daripada Ya', sama ada Ya' Mad atau Ya' Lin) dan huruf sebelumnya lagi berbaris bawah. 6. Ra' sukun 'Aridh kerana waqaf dan sebelumnya Ya' Mad. 7. Ra' sukun 'Aridh kerana waqaf dan sebelumnya Ya' Lin. 8. Ra' yang diimalahkan.
Posted in: PAIZakat
ZAKAT Kata zakat berasal dari bahasa arab "zakaah" yang artinya menurut bahasa tumbuh atau suci. Pengertian zakat menurut syara' ialah kegiatan mengeluarkan sebagian harta tertetu kemudian diberikan kepada yang berhak menerimanya dengan beberapa syarat. "Dirikanlah sembahyang dan tunaikanlah zakat!" (QS. An-Nisaa : 77). "Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka, dan mendoalah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui." (QS. At-Taubah : 103). Abu Abdurrahman Abdullah bin Umar bin Khattab ra. Berkata, Aku pernah mendengar Rasulullah SAW bersabda : “Islam dibangun atas lima perkara : persaksian bahwa tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad Rasul Allah, mendirikan shalat, mengeluarkan zakat, melaksanakan ibadah haji, berpuasa di bulan Ramadhan.” (HR. Bukhori dan Muslim). Zakat terbagi menjadi dua macam, yaitu zakat fithrah dan zakat mal. Zakat Fithrah Menurut bahasa, zakat fithrah artinya zakat yang dikeluarkan pada hari raya Idul fithri, sedangkan pengertian menurut syari'at Islam adalah zakat yang diwajibkan bagi setiap muslim, laki-laki maupun perempuan, besar maupun kecil, yang memiliki kelebihan bagi keperluan dirinya dan keluarganya di hari raya Idul Fithri. Dalam sebuah hadits dinyatakan sebagai berikut : "Rasulullah SAW telah mewajibkan zakat fithrah untuk membersihkan diri orang-orang yang berpuasa dari perbuatan yang tidak berguna dan pada perkataan yang kotor serta untuk memberi makan kepada orang-orang miskin." (HR. Abu Dawud). Syarat Wajib Zakat Fithrah Zakat fithrah wajib dilaksanakan bagi orang-orang yang memenuhi syarat-syarat sebagai berikut : Islam. 1. Orang tersebut ada (hidup) pada waktu terbenam matahari pada malam Idul Fithri. Dengan demikian orang yang meninggal sebelum terbenam matahari pada malam Idul Fithri ia tidak wajib membayar zakat fithrah, demikian juga anak yang lahir sesudah terbenam matahari tidak wajib dibayarkan zakat fithrahnya. Orang yang menikah sesudah terbenam matahari pada malam Idul Fithri juga tidak wajib membayarkan zakat fithrah bagi istrinya. 2. Orang itu mempunyai kelebihan makan baik untuk dirinya maupun keluarganya pada malam hari raya dan siang harinya. Rasulullah SAW bersabda : Ketika Rasulullah SAW mengutus Muadz ke Yaman, beliau bersabda : "Beritahukanlah kepada mereka (penduduk Yaman), sesungguhnya Allah mewajibkan kepada mereka zakat yang diambil dari orang-orang kaya dan diberikan kepada orang-orang yang fakir di hadapan mereka." (HR. Jama'ah ahli hadits). Adapun harta yang ada pada seseorang pada malam Idul Fithri untuk keperluan sehari-hari seperti meja, kursi, pakaian dan sebagainya tidak perlu dijual untuk membayar zakat fithrah. Orang yang memenuhi syarat untuk membayar zakat fithrah ia wajib membayarnya untuk dirinya dan semua anggota keluarganya yang menjadi tanggungannya. Waktu Membayar Zakat Fithrah Zakat fithrah ini boleh dibayarkan sejak awal bulan Ramadhan secara ta'jil (sengan lebih cepat) sampai dengan hari idul Fithri sebelum shalat. Berikut ini akan dikemukakan beberapa waktu pembayaran zakat fithrah : 1. Waktu yang diperbolehkan yaitu mulai dari awal bulan Ramadhan sampai penghabisan bulan Ramadhan. 2. Waktu wajib, yaitu semenjak terbenam matahari pada akhir bulan Ramadhan. 3. Waktu yang afdhal, yaitu waktu sesudah shalat shubuh dan sebelum shalat Idul Fithri. Dari Ibnu Abbas ra, ia berkata : Rasulullah SAW telah mewajibkan zakat fithrah untuk membersihkan orang-orang yang berpuasa dan untuk memberi makan orang-orang miskin. Siapa yang melaksanakannya (mengeluarkan zakat fithrah) sebelum shalat hari raya maka yang demikian itu termasuk zakat yang diterima, dan siapa yang mengeluarkannya sesudah shalat hari raya maka yang demikian itu termasuk sedekah biasa." (HR. Abu Dawud dan Ibnu Majah). Mustahiq Zakat Fithrah Mustahiq zakat fithrah artinya orang-orang yang berhak menerima zakat fithrah. Orang-orang yang berhak menerima zakat fithrah menurut pendapat yang kuat adalah golongan fakir miskin. Hal ini sesuai dengan hadits Rasullullah SAW, yaitu : "Rasulullah SAW telah mewajibkan zakat fithrah untuk membersihkan diri orang-orang yang berpuasa dari perbuatan yang tidak berguna dan pada perkataan yang kotor serta untuk memberi makan kepada orang-orang miskin." (HR. Abu Dawud). Cara membayar zakat, baik zakat fithrah maupun zakat harta boleh secara langsung kepada mustahiqnya, atau kalau di suatu tempat itu ada panitia penerimaan dan penyaluran zakat, lebih baik pembayaran zakat itu melalui panitia. Harta yang dikeluarkan untuk zakat fithrah adalah makanan pokok yang berlalu di negara/daerah di mana wajiba zakat tinggal, bisa berupa beras, gandum, sagu, jagung dan lain-lain. Menurut suatu pendapat, zakat fithrah boleh dibayarkan dengan berupa uang yang telah ditetapkan. Dari Ibnu Umar ra, ia berkata : Rasulullah SAW telah mewajibkan zakat fithrah pada bulan Ramadhan, sebanyak satu sha' kurma atau gandum atas tiap-tiap orang muslim merdeka atau hamba sahaya, baik laki-laki maupun perempuan." (HR. Al-Bukhari dan Muslim). Ukuran jumlah yang dibayarkan zakat fithrah sebanyak satu sha' sama dengan 3,5 liter (2,5 kg) beras. Zakat Harta (Zakat Maal) Zakat harta ialah kegiatan mengeluarkan sebagian harta kekayaan berupa binatang ternak, hasil tanaman (buah-buahan), emas dan perak, harta perdagangan dan kekayaann lain yang diberikan kepada yang berhak menerimanya dengan beberapa syarat tertentu. Syarat wajib zakat harta adalah sebagai berikut : 1. Islam 2. Baligh 3. Berakal 4. Merdeka 5. Milik sendiri 6. Mencukupi satu nishab sesuai dengan jenis yang akan dikeluarkan zakatnya. 7. Telah mencukupi satu haul (satu tahun) kecuali untuk buah-buahan (pertanian), atau harta temuan, tidak harus menunggu satu haun, dan untuk bintang ternak yang wajib dizakati ialah yang digembalakan di padang rumput. Macam-macam Harta yang Wajib Dizakati dan Ketentuan Nishabnya a. Emas, perak dan uang Nishab untuk emas adalah 20 mitsqal atau sama dengan 93,4 gram, zakatnya 2,5%. Nisab perak adalah 200 dirham atau setara dengan 624 gram, zakatnya 2,5%. Jika emas atau perak telah mencapai atau melebihi dari ukuran nishab dan telah satu tahun, maka telah wajib zakatnya, dan jumlah kelebihan tersebut harus diperhitungkan juga. Misalnya jumlah emas sebanyak 100 gram, maka perhitungannya adalah 2,5% dikalikan 100 gram = 2,5 gram. Yang dikeluarkan zakat bukanlah potongan/bagian dari emas tersebut, melainkan nilai uang yang setara dengan jumlah emas yang harus dikeluarkan. Nishab dan jumlah yang harus dikeluarkan disetarakan dengan nishab emas dan perak. Rasulullah SAW bersabda : "Apabila engkau mempunyai perak 200 dirham dan telah cukup satu tahun maka zakatnya 5 dirham dan tidak wajib zakat emas atas kamu hingga kamu mempunyai 20 dinar dan telah cukup satu tahun maka wajib zakat padanya setengah dinar." (HR. Abu Dawud). b. Harta Perdagangan Jika barang-barang perdagangan dalam satu tahun ternyata nilainya seharga emas yang wajib dikeluarkan zakatnya, maka barang perdagangan tersebut wajib dikeluarkan zakatnya. Hal ini sebagaimana sabda Rasulullah sebagai berikut : Dari Samurah, Rasulullah SAW memerinthakan kepada kamu agar mengeluarkan zakat dari barang yang disediakan untuk dijual." (HR. Ad-Daruquthni dan Abu Dawud). c. Zakat Hasil Tanaman Buah-buahan seperti kurma, biji-bijian yang mengenyangkan seperti beras, gandum, jagung dan yang semisal wajib dizakatkan jika mencukupi nishabnya. Zakat buah-buahan dan biji-bijian tidak perlu haul (satu tahun) tetapi dikeluarkannya pada waktu panen. Allah SWT berfirman : "Dan tunaikanlah haknya di hari memetik hasilnya (dengan dikeluarkan zakatnya); dan janganlah kamu berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan." (QS. Al-An'aam : 141). Nishab zakat hasil tanaman adalah sebanyak lima wasaq, sebagaimana hadits Rasulullah SAW : Dari Abu Said Al-Khudri ra, sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda : "Tidak ada zakat pada barang seperti tanaman dan biji-bijian yang kurang dari 5 wasaq." (HR. Al-Bukhari). Dari Ibnu Umar ra, dari Nabi SAW beliau bersabda : "Tanaman yang dialiri dengan air hujan, mata air atau yang tumbuh di rawa-rawa, zakatnya sepersepuluh dan yang diairi dengan tenaga pengangkutan zakatnya seperduapuluh." (HR. Al-Bukhari). Keterangan: : 1 wasaq = 60 sha', sehingga 5 wasaq = 300 sha' 1 sha' = 2,304 kg, sehingga 300 sha' = 691,2 kg = 6 kwintal 91 kg 200 gram Zakat yang harus dikeluarkan : • Jika penyiraman menggunakan air hujan, mata air atau tumbuh di rawa-rawa sebesar 10%. • Jika penyiraman menggunakan tenaga pengakutan sebesar 5%. d. Zakat Binatang Ternak 1) Unta Seseorang yang mempunyai 5 ekor unta ke atas wajib mengeluarkan zakatya dengan aturan sebagai berikut : • 5 ekor unta zakatnya 1 ekor kambing • 10 ekor unta zakatnya 2 ekor kambing • 15 ekor unta zakatnya 3 ekor kambing • 20 ekor unta zakatnya 4 ekor kambing • 25 ekor unta zakatnya 1 ekor unta berumur 1-2 tahun • 36 ekor unta zakatnya 1 ekor unta berumur 2-3 tahun • 46 ekor unta zakatnya 1 ekor unta berumur 3-4 tahun • 61 ekor unta zakatnya 1 ekor unta berumur 4-5 tahun • 76 ekor unta zakatnya 2 ekor unta berumur 2-3 tahun • 91 ekor unta zakatnya 2 ekor unta berumur 2-3 tahun • 121 ekor unta zakatnya 3 ekor unta berumur 2-3 tahun • Kemudian untuk tiap-tiap 40 ekor unta zakatnya 1 ekor unta yang berumur 2-3 tahun dan untuk tiap-tiap 50 ekor zakatnya 1 ekor unta berumur 3-4 tahun. 2) Nishab dan Zakat Sapi atau Kerbau Nishab zakat sapi atau kerbau ialah mulai dari 30 ekor ke atas dengan rincian sebagai berikut : • 30 - 39 ekor sapi/kerbau zakatnya 1 ekor anak sapi/kerbau yang berumur 1-2 tahun (tabi') • 40 - 59 ekor sapi/kerbau zakatnya 1 ekor anak sapi/kerbau betina yang berumur 2-3 tahun (musinnah). • Untuk selanjutnya tiap-tiap 40 ekor sapi/kerbau zakatnya seekor anak sapi atau kerbau betina yang berumur 2-3 tahun (musinnah). 3) Nishab dan Zakat kambing Nishab kambing mulai dari 40 ekor kambing dan zakatnya 1 ekor kambing berumur 2-3 tahun (ma'zun). Selanjutnya diatur sebagai berikut : • 40 - 120 ekor kambing zakatnya 1 ekor kambing berumur 2-3 tahun. • 121 - 200 ekor kambing zakatnya 2 ekor kambing berumur 2-3 tahun. • 201 - 300 ekor kambing zakatnya 3 ekor kambing berumur 2-3 tahun. • 301 - 400 ekor kambing zakatnya 4 ekor kambing berumur 2-3 tahun. • Untuk selanjutnya setiap bertambah 100 ekor kambing, zakatnya 1 ekor kambing. e. Nishab dan Zakat hasil tambang Hasil tambang berupa emas, perak dan sebagainya apabila sampai memenuhi nishab sebagaimana nishab emas dan perak maka harus dikeluarkan zakatnya seketika itu juga, tidak usah menunggu satu tahun. Adapun zakatnya adalah sebesar 2,5%. f. Nishab dan Zakat barang temuan (luqathah) Barang temuan berupa emas atau perak jika mencapai satu nishab harus dikeluarkan zakatnya seketika itu juga sebesar 20%. Ukuran nishabnya sama dengan emas dan perak. Mustahiq Zakat Mustahiq zakat harta adalah orang-orang yang berjak menerima zakat harta, terdiri dari delapan ashnaf (golongan). Sebagaimana firman Allah SWT : "Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para muallaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berutang, untuk jalan Allah dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan, sebagai sesuatu ketetapan yang diwajibkan Allah; dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana." 1. Orang fakir, yaitu orang yang tidak ada harta untuk keperluan hidup sehari-hari dan tidak mampu untuk bekerja dan berusaha. 2. Orang miskin, yaitu orang yang penghasilan sehari-harinya tidak mencukupi kebutuhan hidupnya. 3. 'Amil, yaitu orang-orang yang bertugas mengumpulkan dan membagi-bagikan zakat kepada orang yang berhak menerimaknya. 'Amil dapap disebut juga panitia. 4. Muallaf, yaitu orang yang beru masuk Islam dan imannya masih lemah. 5. Hamba sahaya (budak), yaitu orang yang belum merdeka. 6. Gharim, yaitu orang yang mempunyai banyak hutang sedangkan ia tidak mampu untuk membayarnya. 7. Sabilillah, yaitu orang-orang yang berjuang di jalan Allah. 8. Ibnu Sabil, yaitu orang yang sedang dalam perjalanan (musafir) seperti dalam berdakwah dan menutut ilmu. Hikmah Zakat 1. Sebagai ungkapan syukur dan terimakasih kepada Allah SWT yang telah memberikan bermacam-macam kenikmatan antara lain berupa kekayaan. 2. Dengan zakat, orang yang tidak mampu akan tertolong sehingga mereka dapat melakukan kewajiban-kewajibanya. 3. Zakat mengandung pendidikan untuk menjauhkan diri dari sifat kikir dan ssifat-sifat lain yang tercela. 4. Zakat dapat menciptakan hubungan kasih sayang dan saling mencintai antara orang kaya dan orang miskin dan juga dapat menghilangkan kecemburuan yang mungkin akan menimbulkan kejahatan.
Posted in: PAISMS di Bulan Ramadan
Hidup ini hanya sebentar lagi bentar marah,bentar ketawa betar berduit,bentar boke bentar senang,bentar susah ooo ye…bentar lagi bulan puasa met ramadhan…mohon maaf lahir bathin Semoga di bulan Ramadhan ini kita bisa beningkan hati seperti XL, Dapat berpikir luas seperti SIMPATI, memberi maaf secara cuma2 seperti AS, memberi banyak kesempatan seperti IM3, murah senyum seperti JEMPOL, & yang palingg penting kita dpt berpikir cerah seeprti MENTARI. Sebelum cahaya Illahi dipadamkan, sebelum langit runtuh, sebelum pintu taubat ditutup, sebelum malaikat menjemput, sebelum ramadhan tiba, maaf kalau ada perkataan yg menyinggung sampai telinga panas seperti ESIA.. Marhaban ya Ramadhan, semoga bulan ini penuh BBM (Bulan Barokah dan Maghfirah) mari kita PREMIUM (Pre Makan dan Minum) serta SOLAR (Sholat Lebih Rajin ), dan MINYAK TANAH (Meningkatkan Iman dan Banyak Tahan Nafsu Amarah) serta PERTAMAX (Perangi Tabiat Maksiat) Mohon Maaf Lahir dan Bathin Perkataan yg indah adlh “ALLAH” Lagu yg merdu adlh “ADZAN” Media yg terbaik adlh “AL QUR’AN” Senam yg sehat adlh “SHALAT” Diet yg sempurna adlh “PUASA” Kebersihan yg menyegarkan adlh “WUDHU” Perjalanan yg indah adlh “HAJI” Khayalan yg baik adlh ingat akan “DOSA&TAUBAT” Let’s join us for ‘RAMADHAN SALE Diskon pnghapus dosa besar2an s/d 100% utk semua jns dosa Tin9ktkn ibadah wajib, sunnah, perbnyk istigfar%shdaqah Lebih heboh lg, ikuti DOOR PRIZE lailatul qadar Slamat berpuasa maaf lahir batin Nafaspun menjadi tasbih, tidurpun menjadi ibadah, amal diterima&doa2 dijabah bagi orang yang shaum&rajin membaca Kitab-Nya di bulan ramadhan Marhaban ya Ramadhan, maaf lahir dan bathin, selamat menjalankan ibadah PUASA kekota jakarta hari selasa pulang pergi naik kreta s’hari lg kt puasa mohon mf kalo ada salah kata… Marhaban Ya Ramadhan Gersang bumi tanpa hujan..gersang akal tanpa ilmu,,gersang hati tanpa iman..gersang jiwa tanpa amal.. marhaban ya ramadhan……………. selamat menunaikan ibadah puasa mohon maaf lahir dan bathin Mpok rOGAYE Tibe2 kye TeMen2 smUe Met puAse Yeee……. Soto TumpAh Hrus dIelaPin Klo aDa Slan Moon DimAAfin ZiDan SukA DanDan MarHaban Ya rAmaDhan, Marhaban yang ramadhan..bln suci kembali tiba..saat tepat menyucikan diri dari segala dosa..tanpa basa basi mhn dimaafkan segala kesalahan Jika semua HARTA adalah RACUN maka ZAKAT-lah penawarnya Jika seluruh UMUR adalah DOSA maka TAQWA&TOBAT lah obatnya, Jika seluruh BULAN adalah NODA maka RAMADHAN lah pemutihnya,MOHON MAAF LAHIR&BATHIN,SELAMAT MENUNAIKAN IBADAH PUASA. Pergilah keluh, ku tak mau berteman dengamu. Silahkan kesah, kau bukan takdirku… mujahadah adalah temanku, dakwah adalah nafasku, dan Allah adalah kasihku… Maafkan segala kesalahan Mengingat Kata yang Salah, Hati yang Berprasangka, janji yang terlupakan,Sikap & Sifat yang menyakitkan, di hari ini ijinkanlah ku juga mengucapkan mohon maaf LAHIR DAN BATHIN Pelanggan yang terhormat. Selamat menunaikan ibadah puasa 1930 H. Mohon maaf lahir dan batin. Gelap malamMU ku terjaga, karnaMU ku bergerak melangkah menuju mentariMU, kusambut pemberianMU (“Marhaba YA Ramadhan”), dangan harapan kudapat keridoanMU…….. Slama menunaikan Ibadah Puasa…… Sebelum HCl jadi basa, NaOH jadi asam, NaCl jadi manis n glukosa jadi asin, hati selalu tertengadah mengharap titrasi maaf dari buret hatimu. Marhaban Ya Ramadhan Anak melayu mengail ikan, perahu berlabuh ditengah lautan, sambil menunggu datangnya ramdhan jari ku susun mohon ampunan, selamat menyambut bulan suci ramadhan bagi semua umat muslim.. Mungkin hari-hari yang lewat telah menyisakan sebersit kenangan yang tak terlupa….., ada salah, ada khilaf, ada dosa yang mengikuti perjalanan hari-hari itu. agar tak ada sesal, tak ada dendam, tak ada penyesalan …. mari kita sama-sama sucikan hati,diri,dan jiwa kita. Marhaban Yaa Ramadhan…… Berharap padi dalam lesung, yang ada cuma rumpun jerami, harapan hati bertatap langsung, cuma terlayang sms ini. Sebelum cahaya padam, Sebelum hidup berakhir, Sebelum pintu tobat tertutup, Sebelum Ramadhan datang, saya mohon maaf lahir dan bathin…. Bila hati saling terpaut rasa cinta terjalin indah Bila salah & Khilaf telah terjadi maka Mohon Maaf Lahir & Batin atas kesalahan, “Marhaban Ya Ramadhan” Selamat Menunaikan Ibadah Puasa Semoga kita selalu diberkahi dibulan yang penuh mahrifah Berharap padi dalam lesung, yang ada cuma rumpun jerami, harapan hati bertatap langsung, cuma terlayang sms ini. Sebelum cahaya padam, Sebelum hidup berakhir, Sebelum pintu tobat tertutup, Sebelum Ramadhan datang, saya mohon maaf lahir dan bathin…. Selamat memasuki Bukan penuh Pengampunan y#eaahhh Jika hati ini seringkali jengkel, Jadikan ia jernih sejernih XL, Jika hati ini seringkali iri, Jadikan ia cerah secerah MENTARI, Jika hati ini seringkali dendam Jadikan ia penuh kemesraan FREN Jika hati ini seringkali dengki Jadikan ia penuh SIMPATI Selamat Datang Bulan Ramadhan Bebaskan Diri dari ROAMING dosa, Raihlah HOKI Raihlah JEMPOL dari Ilahi Tiada kemenangan tanpa zikrullah tiada amal tanpa keikhlasan tiada ampunan tanpa maaf dari sesama marhaban ya ramadhan.. Ada raksasa beli pulsa.. Nga’ trasa dah mo puasa Burung kakatua nemplok dijendela jangan Lupa perbanyk pahala Sahabat2g setanah air, marilah sama2 kita persiapkan diri menuju Bulan Penuh Rahmat Berkah AmPuNaN,,, Mari Saling Memaafkan Segala KesalaHaN dan KeKhiLaFan AgaR PenUh MaKnA dlm Menyemai Keiklasan, MeMuPuK KeSaBaRaN, MeNuMbUhKaN SeMaNgaT IbAdAH GuNa MeMeTiK “KEMENANGAN BESAR”…. Insy4JJ1. MaRhAbAN ……………Ya…………..RaMaDhaN……….. Tak terasa satu tahun telah terlewat kan kini ia mengunjungi kita lagi Ramadhan Yamarhaban Bulan Penuh Berkah, Bulan Penuh Rahmad, Bulan Penuh Ampunan ……. Sungguh mualia Bulan Suci Rahmadhan Selamat Menunaikan Ibadah Puasa … Ya Allah…… Perkayalah Saudaraku ini dengan keilmuan Hiasi hatinya dengan kesabaran Muliakan wajahnya dengan ketaqwaan Perindalah fisiknya dengan kesehatan Serta terimalah amal ibadahnya dengan kelipat gandaan Karena hanya Engkau Dzat penguasa sekalian alam Marhaban Ya Ramadhan… Mohon maaf lahir dan bathin… Jika semua HARTA adalah RACUN maka ZAKAT-lah penawarnya, Jika seluruh UMUR adalah DOSA maka TAQWA&TOBAT lah obatnya, Jika seluruh BULAN adalah NODA maka RAMADHAN lah pemutihnya,MOHON MAAF LAHIR&BATHIN,SELAMAT MENUNAIKAN IBADAH PUASA. Semua yang kulakukan adalah untuk kebahagianmu. Segalanya adalah untukmu. Hanya saja aku bukan lelaki yang sempurna selalu saja ada kata dan kesalahan yang mungkin bisa menyakiti hatimu. Selamat berpuasa sayang, terimalah maafku. Bersama 1000 cinta,. Maaf kalo selama ini aku suka bikin kamu kesal. Jujur juga, memang aku gak gampang ngertiin kamu. Tapi aku 100% cinta kamu. Met Puasa, maafkan aku lahir dan batin ya. I Love U. Tiada kemenangan tanpa zikrullah tiada amal tanpa keikhlasan tiada ampunan tanpa maaf dari sesama marhaban ya ramadhan.. Fajar ramadhan segera menghampiri dunia, selembar sutra menghapus noda, sebening embun penyejuk kalbu, sucikan hati bersihkan jiwa di bulan yang suci. selamat menunaikan ibadah puasa 1432 H semoga amal kita diterima disisi Alllah SWT..Amiiin… Demikianlah Kumpulan SMS yang saya re-write kembali disini (dari berbagai sumber), dan sahabat Pustakers bisa kirim nanti ke teman-temannya, serta handai taulannya dalam menyambut Ramadhan 1432 H bulan penuh baroqah. [ps]
Posted in: UMUMAwas Demam Riya
Awas Demam Riya! Riya’ merupakan penyakit hati yang sangat berbahaya, bahkan lebih berbahaya dari demam berdarah atau aids sekalipun. Sulit membedakan ibadah jaman sekarang yang tidak bercampur riak Suatu ketika, di yaumil akhir, berlangsung pengadilan terhadap tiga orang laki-laki. Yang pertama kali diadili adalah orang yang gugur sebagai syahid. Ia kemudian dipanggil oleh Allah. Kepadanya kemudian diperlihatkan amal perbuatannya. Ia pun mengakui perbuatannya ketika berperang membela agama hingga akhirnya gugur sebagai syahid. Kemudian Allah bertanya: “Apa yang telah kamu lakukan untuk mendapatkannya (mati syahid).” “Aku berperang demi (mendapat) ridha-Mu hingga aku gugur di medan jihad,” jawab lelaki itu. “Kamu berdusta,” sergah Allah. “Kamu berperang agar dikatakan pemberani dan sungguh kamu telah mendapatkannya,” sambung Allah lagi. Kemudian Allah memerintahkan agar orang tersebut diseret dan dilemparkan ke dalam neraka. Selanjutnya Allah memanggil orang yang kedua, yakni seorang lelaki yang tekun menuntut ilmu dan mengajarkannya. Ia juga rajin membaca al-Qur’an. Seperti yang pertama, ia pun diperlihatkan amal perbuatannya. Setelah ia mengenalinya, Allah bertanya: “Apa yang telah kamu perbuat dengannya (menuntut ilmu)?” “Saya menuntut ilmu, mengajarkannya kepada yang lain dan membaca al-Qur’an demi Engkau, ya Allah,” jawab lelaki itu. “Kamu berdusta!” kata Allah berfirman. “Kamu menuntut ilmu agar dibilang orang pandai dan kamu membaca al-Qur’an agar dikatakan sebagai qori yang bagus (bacaannya), dan sungguh kamu telah memperolehnya,” ungkap Allah. Kemudian Allah memerintahkan agar orang tersebut diseret dan dilemparkan ke neraka. Berikutnya Allah mengadili orang yang ketiga yakni seorang lelaki yang dilapangkan dan dikaruniai Allah kekayaan yang melimpah. Kepadanya diperlihatkan amal perbuatannya. Iapun mengenalinya. Lalu Allah bertanya: “Apa yang kamu perbuat terhadap harta bendamu?” Lelaki itu menjawab: “Saya tak pernah melewatkan kesempatan menafkahkan harta benda di jalan-Mu dan itu saya perbuat demi Engkau, wahai Tuhanku”. Allah berfirman: “Kamu berdusta! Kamu tidak melakukan itu semua kecuali dengan pamrih agar kamu dibilang sebagai dermawan. Dan kamu telah mendapatkan semua yang kamu inginkan." Selanjutnya Allah memerintahkan agar orang tersebut diseret dan dilemparkan ke neraka. Niat yang Menentukan Amal baik belum tentu bernilai baik sebelum diketahui niatnya. Bisa saja manusia memberi gelar pahlawan kepada seseorang yang memiliki keberanian dan tanggung jawab yang besar dalam membela agama dan negaranya, akan tetapi Allah yang Maha Mengetahui yang nampak dan yang tersembunyi. Maka Allah jualah yang akan memberikan penilain-Nya tersendiri. Allah tidak menilai seseorang dari yang zhahirnya saja, tapi juga dari yang tersembunyi yaitu niat atau motivasinya. Bisa jadi seseorang dihormati karena kedalaman ilmu dan keluasan wawasannya. Tapi di sisi Allah, seorang ulama baru dianggap bernilai bila ia ikhlas dalam mencari ilmu dan tulus ketika mengajarkan dan menyebarluaskannya. Ketika ada motivasi lain, sekecil apapun, pasti terdeteksi oleh ke-Mahatahuan-Nya. Allah berfirman: Kepunyaan Allah-lah segala yang ada di langit dan yang ada di bumi. Dan jika kamu menampakkan apa yang ada dalam hatimu atau kamu menyembunyikannya, niscaya Allah akan membuat perhitungan dengan kamu tentang perbuatan itu. Maka Allah mengampuni siapa yang dikehendaki-Nya dan menyiksa siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. (QS. Al-Baqarah: 284) Demikian pula halnya dengan orang kaya yang dermawan, belum tentu kedermawanannya berkenan di hadapan Allah. Boleh jadi kemurahannya dalam memberi digerakkan oleh niat-niat tertentu yang dapat merusak pahala sadaqahnya. Orang-orang yang menerima sumbangannya tidak mengetahui niat orang tersebut, tapi Allah saw selalui memonitor gerak hati seseorang. Dia menilai tidak sekadar dari lahirnya, tapi lebih penting lagi adalah niatnya. Itulah sebabnya, niat dalam ajaran Islam menempati posisi sentral dan sangat menentukan. Rasulullah saw bersabda: Sesungguhnya segala amal perbuatan itu tergantung kepada niat, dan sesungguhnya tiap tiap orang memperoleh sesuatu sesuai dengan niatnya. Barangsiapa yang berhijrah di jalan Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya itu ialah kepada Allah dan Rasul-Nya. Barangsiapa hijrah karena ingin memperoleh keduniaan atau untuk mengawini seorang wanita, maka hijrahnya adalah ke arah yang ditujunya tersebut. (HR. Bukhari dan Muslim) Sabda Rasulullah di atas dilatarbelakangi oleh pengaduan seseorang yang menyampaikan bahwa di antara orang-orang yang hijrah ke Madinah menyusul hijrahnya Rasulullah saw ada seseorang yang berhijrah karena ingin mengawini seorang wanita yang bernama Ummu Qais. Pada mulanya lelaki itu ingin tetap tinggal di Makkah, akan tetapi karena Ummu Qais yang hendak dinikahinya mengajukan syarat bahwa ia mau dinikahi jika lelaki itu hijrah ke Madinah, maka akhirnya sang lelaki itu terpaksa turut hijrah demi kekasihnya. Dalam kehidupan sehari-hari ada contoh yang sederhana. Di siang hari yang panas, seorang lelaki masuk ke mesjid. Secara lahiriyah perbuatan itu sangat terpuji. Akan tetapi siapa tahu niat yang tersembunyi dalam hatinya. Bisa jadi ia masuk ke mesjid dengan niat untuk istirahat. Jika niatnya seperti itu, maka ia akan memperoleh yang diniatkannya. Ia terhindar dari sengatan matahari dan terlepas dari rasa penat. Lain halnya jika ia meniatkan untuk i’tikaf. Boleh jadi ia mendapatkan kedua-duanya, yaitu pahala sekaligus istirahat yang cukup. Dalam kenyataannya, banyak sekali perbuatan manusia yang motivasinya campur aduk antara ikhlas dan riya’. Misalnya, orang yang menunaikan ibadah haji seringkali niatnya tidak semata-mata untuk ibadah, tapi jauh sebelum keberangkatannya mereka sudah membuat rencana untuk membeli perhiasan, makanan, pakaian dan oleh-oleh lainnya untuk disebarkan kepada kerabatnya di tanah air. Demikian pula halnya dengan orang yang menuntut ilmu, banyak yang niatnya tidak untuk memperoleh ridha Allah, tapi agar kelak dihormati dan disanjung masyarakat sebagai orang yang berilmu. Atau agar kelak mendapat pekerjaan yang baik, pangkat dan jabatan mentereng serta berkuasa di tengah masyarakatnya. Seseorang yang shalat malam (tahajjud) mungkin saja niatnya murni, semata-mata ingin bertaqarrub dengan Allah swt. Akan tetapi ada pula seseorang yang menjalankan shalat malam karena niat 'daripada tidak bisa tidur' atau karena dia sedang berjaga, daripada bengong. Secara syar’i, ibadahnya orang yang disebutkan di atas tetap sah dan tidak batal, akan tetapi kurang afdol. Ibadahnya sah, tapi kurang sempurna karena beribadah kepada Allah menuntut adanya kemurnian niat (ikhlas) semata-mata karena Allah. Al-Qur’an menandaskan: “Sesungguhnya Kami menurunkan kepadamu kitab (Al-Qur’an) dengan (membawa) kebenaran. Maka sembahlah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya. Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih (dari syirik). Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata): ‘Kami tidak menyembah mereka kecuali supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah sedekat-dekatnya.’ Sesungguhnya Allah akan memutuskan di antara mereka tentang apa yang mereka berselisih padanya. Sesungguhnya Allah tidak menunjuki orang-orang yang pendusta dan sangat ingkar.” (QS. Az-Zumar: 2-3) Riya’ merupakan penyakit hati yang sangat berbahaya, bahkan lebih berbahaya dari demam berdarah atau aids sekalipun. Itulah sebabnya Rasulullah saw sangat khawatir dengan penyakit ini. Beliau takut ummatnya terjerumus pada penyakit yang beliau sebut sebagai syirik yang tersamar itu. Beliau bersabda: "Sesungguhnya yang saya takuti menimpa atas kamu ialah syirik kecil (syirkul ashghar). Para sahabat bertanya, 'apakah yang dimaksud dengan syirik kecil itu, ya Rasulallah?' Nabi menjawab: 'Riya’, (yakni) ketika manusia datang untuk meminta balasan atas amal perbuatan yang mereka lakukan. Maka Tuhan berkata kepada mereka : 'Pergilah kamu menemui orang-orang yang karena mereka kamu beramal (riya') di dunia niscaya kamu akan sadar apakah kamu memperoleh balasan kebaikan dari mereka?”.
Posted in: PAI


00.54
Mas Dayat










